Sabtu, April 18, 2009

Kembali ke Zaman Batu




Masih ingat dengan Muhammad Ponari (9) bocah asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh Jombang. Bocah kecil yang memiliki batu ajaib yang digunakan untuk mengobati ribuan orang pasien. Ponari yang pernah menggemparkan jagad perdukunan dan pengobatan di Indonesia itu. Cukup dengan mencelupkan batu kedalam air minum, dan airnya bisa di jadikan obat penyembuh bermacam penyakit.

Selain Ponari ada juga Achmad Ikhsannuddin (32), warga Dusun Kebondalem Desa Kebondalem Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Achmad juga mengaku memiliki batu ajaib dan keramat. Batu yang diyakini berasal dari sambaran petir ini hanya disimpan selama hampir 19 tahun. Diyakininya batu miliknya juga bisa menyembuhkan bermacam penyakit.

Masih ada lagi Siti Nur Rohmah di Siti Nur Rohmah (35), ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Tambakasri I-13, Jombang, Perumahan Tambak Asri, Kelurahan Tunggorono, Jombang, Dewi Setiowati (13) di Dusun Pakel, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo serta Irfan Maulana, bocah yang masih berumur 6 tahun warga Kampung Baru, Desa/Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. Mereka juga mengaku memiliki batu yang tidak kalah ajaib dengan batu milik Ponari.

Memang berita tentang batu ajaib yang menghebohkan itu sudah mulai lenyap akibat berita tentang pemilu dan permasalahannya. Namun sampai sekarang setiap orang masih berlomba-lomba mengaku memiliki batu ajaib dan berlomba-lomba mencari batu ajaib serta menggunakan batu untuk kepentingan tertentu.


Sebetulnya saya tidak ingin membicarakan perihal batu ajaib milik Ponari dan milik rombongannya itu, melainkan tentang masalah saya yang berhubungan dengan batu. Memang tidak dipungkiri bahwa setiap hari saya pasti melihat batu, baik itu batu bata, batu pecah, batu koral dan batu jenis lainya di proyek.

Baru-baru ini saya mendapat lemparan batu dari seseorang yang tidak dikenal. Awalnya saya mengira batu itu adalah batu ajaib yang jatuh dari langit dibawa oleh petir, tapi pada saat itu tidak ada hujan ataupun petir. Saya sengaja mengambil batu yang mengenai bagian tubuh itu dan mengamatinya. Batu itu tidak ada anehnya hanya batu biasa. Yang aneh hanya, kenapa batu itu dilemparkan kepada saya. Apa semua orang mulai membiasakan main batu, main lempar batu, menjadikan batu sebagai alat dan senjata. Mudah-mudahan kita tidak kembali ke zaman batu lagi.

Kalau sewaktu kecil dulu memang, ketika kita tauran atau berkelahi dan apabila merasa sudah tidak memungkinkan untuk menang dan sudah terpojok, jalan terakhir yang dipilih yaitu kalau tidak lari atau dengan mengambil batu untuk di jadikan senjata. Begitu juga sewaktu dikejar anjing, tindakan yang dipilih yaitu jongkok lalu mengabil batu. Sampai saat ini batu masih banyak digunakan dan digemari sebagai senjata, karena mudah didapat dan penggunaannya sangatlah mudah.


Lalu siapa yang melempar batu itu? ada hal apa sampai batu itu dilemparkan?


***jangan lempar batu sembunyi tangan...





Tidak ada komentar: