Sabtu, November 10, 2012

Shogun Lelakai Berbaju Moncong Putih

 “Landak”, satu kata itu tanpa sengaja melintas di telinggaku, dengan lantang kata itu terucap dari bibir salah seorang lelaki bertubuh gempal dan berkumis tebal dalam warung kecil beratap terpal. Warung berpenyangga kayu itu bertengger bebas diatas trotoar jalan dekat sebuah kantor milik pemerintah. Tiga lelaki paruh baya berpakaian rapi dan sopan tersebut terlihat asik bercengkrama, tidak begitu jelas mereka tengah membicarakan apa.

“Ada aqua botol bu” Tanya ku pada pemilik warung
“Ada, tu di pojok” jawabnya, sambil menunjuk menggunakan kedua bibirnya. Sembari ia terus membersihkan gelas-gelas minuman dalam ember kecil disamping warung.
“Berapa bu?”
“Tiga ribu”
Setelah menyodorkan tiga lembar uang seribu, aku langsung berlalu.

Sore ini, ditengah perjalanan, aku kembali teringat akan satu kata tadi, satu kata itu perlahan-lahan membawaku pada sebuah cerita di masa lalu. Kisah tiga tahun berlalu, ketika aku masih bekerja pada sebuah perusahaan lokal bergerak dibidang kontraktor di kota Pontianak, aku ditugaskan khusus pekerjaan di kabupaten Landak. 

Tiba-tiba aku teringat sosok seorang Shogun,

Shogun sebenarnya bukan nama aslinya, selain shogun orang memanggilnya dengan sebutan: “Pak Apan”, Apan adalah nama anak pertama beliau, didaerah itu orang biasa memanggilkan nama anak pertama pada laki-laki dewasa yang sudah memiliki keturunan.
Usianya sudah mendekati 60 tahun, badanya kekar, tinggi dan besar, wajahnya sangat khas, mungkin karena itu ia dipanggil Shogun. Sebenarnya Shogun adalah istilah bahasa Jepang yang berarti jendral, terutama untuk panglima angkatan bersenjata Jepang.

Aku mengenal Shogun dengan baik ketika beliau menjadi pemandu kami, waktu ada pekerjaan didaerah pedalaman tidak jauh dari kampungnya. Lelaki Dayak itu, sangat disegani di kampungnya dan di kampung-kampung sekitar.

Ia biasa masuk hutan bertopi pet, tidak beralas kaki, hanya bercelana pendek dan kaos oblong lengan panjang warna merah, bergambarkan kepala banteng dengan moncong putih. Entah berapa lusin baju itu ada di lemari pakaiannya, hampir setiap hari ia berseragamkan itu. Parang besar dan tajam selalu terselip dipinggangnya.

Ia tidak banyak bicara hanya seperlunya. Shogun sangat hafal jalan-jalan setapak yang ada di sekitar hutan dan kebun milik warga. Sehingga dia tahu mana jalan terdekat dan aman untuk dilalui. Dia begitu piawai menebas semak, menyinkirkan ranting-ranting bahkan menebang pohon besar sekalipun dengan parang kesayangannya, apalagi menebas leher binatang buas.
Shogun sering memperlihatkan bagaimana mengenal dan bersahabat dengan hutan. Beberapa kali kami pernah kemalaman dihutan dan beberapa kali memang sengaja untuk tidak kembali ke mess kami, dan memilih untuk menginap di hutan. Aku sangat menyukai aroma hutan disana baik di siang maupun malam hari.
Shogun sangat mahir memanfaatkan apa yang ada di hutan untuk bisa di kosumsi, kemudian memasaknya menjadi makanan. Pernah suatu ketika Shogun menemukan hewan labi-labi, hewan mirip kura-kura di sungai kecil dekat kebun warga, kemudian dengan bumbu seadanya ia memasaknya dalam sepotong bambu. Pernah seekor ular cobra besar hampir mengigitnya, ia berhasil membunuh dan ular itu dijadikan lauk untuk makan malam kami. Sebenarnya aku belum pernah memakan hewan-hewan tersebut, namun atas nama sebuah pengalaman dan keterbatasan aku pun memilih untuk mencobanya. Aku lebih suka jika Shogun menangkap ikan atau burung sebagai pelengkap makanan santap malam kami. tentunya santap malam lebih berasa jika ditambah cerita nyata berbau dongeng dari seorang Shogun.

Aku ingat ketika itu, aku mendapat SMS dari kantor bahwa ada gempa besar di Padang. SMS baru masuk jam 3 pagi keesokan harinya. Dengan raut cemas, kami pun bergegas keluar hutan menuju ibukota kecamatan untuk menonton berita gempa di televisi, maklum di kampung terdekat tidak ada listrik. Raut sedih juga terpancar di wajah Shogun ketika aku menunjuk di layar televisi bahwa gambar rumah yang sudah runtuh berserakan itu adalah rumahku di kampung.

Hari itu kami tidak bekerja seharian penuh, kami duduk-duduk disebuah warung sambil bertukar cerita. Sesekali aku terus menghubungi nomor sanak saudara di kampung, namun selalu gagal, mungkin terkendala akibat kerusakan gempa. Aku berusaha tetap tenang.

Shogun menanyakan padaku tentang ransanya gempa, sejak nafas melewati hidung ia tidak pernah merasakan goyangan gempa. Memang untuk daerah mereka, gempa menjadi hal langka, kecuali bencana dan peristiwa angin badai atau angin puting beliung sangatlah sering terjadi.

Entah niat menghibur, mungkin juga Shogun benar-benar ingin tahu bagaimana hebatnya goncangan gempa.
Akhirnya aku memberi tahu Shogun, asalkan dia mau mengikuti setiap perintah saat melakukan sebuah simulasi gempa nantinya. Shogun bersetuju dengan persyaratan itu. Kami pun meminjam sebuah kursi warung, aku menyuruh Shogun berdiri tegak sambil memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa puluh detik Shogun berkonsentrasi, tanpa aba-aba aku menguncang kuat-kuat kursi tempat Shogun berdiri. Shogun pun terkejut dan jatuh tersungkur pucat kelantai.
“seperti itu kah gempa?”
“ya, dahsyat kan?”
“lihat ulah kita, gelas itu pecah berantakan, makanan jadi berserakan”
“untung saja kita tidak mematahkan kaki kursinya” Shogun tertawa keras
Pemilik warung terheran-heran dengan tingkah kami, yang seolah ke kanak-kanakan.
Itulah aku dan Shogun

Menjelang senja berakhir, aku rogoh HP dalam saku celana sebelah kanan, aku ingin menelponnya. Tentunya aku harus menghubungi nomor Pak Neba dulu, beliau anak pertama Shogun.  Untuk menghubungi Shogun memang melalui HP anak nya, karena dari dulu Shogun memang malas untuk memainkan alat komunikasi itu. Apalagi untuk men-cash-nya harus ketempat yang ada listriknya, bikin repot katanya.
Setelah mencoba menghubungi ternyata nomor itu sudah tidak aktif, dan beberapa nomor lainya berlaku sama.

Rasa rinduku pada sosok Shogun makin kuat. Hanya sekedar untuk bertanya kabar dan bertutur sapa. Sejak meninggalkan dusun milik Shogun di Januari 2010  dan memutuskan untuk kembali menetap di Padang, hingga saat ini aku tidak lagi pernah berkunjung ke negeri bumi khatulistiwa itu.

Malam ini rinduku sedikit terobati, akhirnya aku bisa menghubungi Widia, gadis yang pernah memasak untuk kami jika dia libur sekolah.  Aku menanyakan tentang kabarnya dan keadaan dusun mereka, tak lupa kabar Shogun merupakan tetangga beda dusun dengannya. Kami tidak dapat becakap-cakap lebih banyak, Widia membisikan pelan bahwa suaminya sudah merengek-rengek….
Aku baru sadar kalau ini malam minggu,




Tidak ada komentar: